2 Inovasi Medis Saat Perang

teknologi
Oleh Rindi Velarosdela / dr. Yusri Dinuth - Minggu, 7 Januari 2018

Selama ini kamu mungkin berpikir kalau perang hanya membawa penderitaan dan kerugian. Tapi, tahukah kamu kalau perang juga mempunyai efek positif untuk kehidupan kamu.

Satu-satunya efek positif dari perang adalah apa yang kamu rasakan sekarang pada ilmu kesehatan modern. Pada jaman perang, banyak korban berjatuhan tapi masih sedikit sumber daya, dokter, perawat, atau tenaga medis.

Jadi, para tenaga medis yang ada pada jaman itu harus berpikir kreatif untuk menyembuhkan para korban perang. haiDokter udah merangkum nih inovasi medis saat perang yang masih dipakai dalam ilmu pengobatan modern sampai sekarang.

Baca juga : Adakah Teknologi Membaca Pikiran?

Menghentikan Pendarahan

Sejarah mencatat kalau perang menyebabkan banyak korban yang mengalami pendarahan. Jaman dulu nih, orang Romawi dan Arab biasa mengikat sabuk atau tali ke tubuh korban yang terluka.

Sedangkan saat perang di Italia pada abad ke-16, dipakai metode tie-the-wound. Metode tie-the-wound memakai ligatur yang diciptakan seorang tukang cukur-ahli bedah asal Perancis, Ambroise Paré buat menghentikan pendarahan para korban perang.

Beda lagi nih dengan metode yang dipakai saat perang Irak dan Afghanistan. Para petugas medis militer memakai bubuk hemostatik pada luka korban untuk menghentikan pendarahan. Bubuk hemostatik adalah obat yang dipakai untuk menghentikan pendarahan yang meliputi daerah luka yang luas.

Jadi, sejak saat itu, para tenaga medis dan rumah sakit mulai memakai bubuk hemostatik untuk menghentikan pendarahan.

Operasi Plastik

Operasi plastik udah ada sejak jaman Perang Dunia 1, loh. Dulunya operasi plastik dikenal dengan sebutan operasi rekonstruktif yang merupakan hasil kontribusi dari ahli bedah militer pada jaman perang.

Contoh terbaik dari operasi plastik pada jaman Perang Dunia 1 adalah hasil bedah yang dilakukan dua ahli bedah asal Selandia Baru, Archibald McIndoe dan Harold Gillies.

Baca Juga : Dibalik Stetoskop Para Dokter

Di tahun 1917, Gillies merawat Walter Yeo, yang menderita luka-luka di bagian wajahnya sehingga dia kehilangan kelopak mata bagian bawah dan atas. Lalu, dia memberikan kelopak mata baru dengan “topeng” dari kulit yang dicangkok ke bagian wajah dan matanya.

Selanjutnya, Gillies mengembangkan dan memperbaiki teknik operasi plastik untuk memperbaiki penampilan dan fungsi bagian tubuh tubuh setelah trauma terutama pada rahang dan hidung atau luka bakar sekunder. Teknik tersebut terus dipakai tenaga medis sampai saat ini.

 

 

 

 

 

 

sumber : today.mims.com

Kembali ke Atas