Ponsel VS Kesehatan

lifestyle
Oleh Tim HaiDokter - Selasa, 2 Mei 2017

 

Belum adanya kepastian tentang tingkat bahaya, itulah yang jadi masalah, Healthy People!

 

Coba Kamu tengok iklan tarif telepon seluler (ponsel) dari berbagai perusahaan telekomunikasi. Tawaran dan promosinya begitu menggoda, seperti; gratis bicara sampai kapan saja, bebas bersosial media dengan kuota yang berbonus-bonus sepanjang hari, dan banyak iming-iming lainnya. Gara-gara tarif murah, Kamu dengan bebas berhalo-halo tanpa batas. Mata dan tangan selalu melekat ke ponsel sambil browsing di dunia maya. Pulsa mungkin saja aman, namun bagaimana dengan kesehatan kamu?  Bisa jadi terancam.

 

Ya, ponsel memang bukan lagi indikator Kamu orang kaya atau bukan, siapapun bisa mengantongi satu atau bahkan dua ponsel. Menurut data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang dilansir CNN.com, pengguna ponsel di seluruh jagat mencapai tiga miliar orang. Sedangkan, Kementrian Komunikasi dan Informatika pada Januari 2016, menyatakan bahwa Tanah Air dengan sekitar 251 juta penduduk, masih kalah dengan jumlah pengguna ponselnya yang berkisar di angka 281 juta.

Dan, diperkirakan akan terus meningkat...

 

Ancaman Kesehatan?

Di balik semua kemudahan berkomunikasi yang diberikan, ponsel memunculkan kekhawatiran, terutama bagi kesehatan. Hal itu dipicu oleh penelitian yang dilakukan oleh Vini Gautam Khurana, MBBS, BSc (Med), PhD, FRACS, Neurosurgeon., seorang ahli bedah saraf dari Universitas Nasional Australia, Canberra, yang dipublikasikan pada akhir Januari lalu. Berdasarkan penelitian selama 15 bulan, Vini menelaah lebih dari 100 penelitian terdahulu tentang keselamatan penggunaan ponsel. Vini menemukan bahwa penggunaan ponsel ternyata memicu epidemi tumor otak, yang akan membunuh lebih banyak orang ketimbang rokok. Penggunaan ponsel -langsung dari handset- lebih dari 10 tahun akan menggandakan risiko terkena kanker otak, ujar Vini.

 

Ternyata, tak hanya Vini yang menaruh perhatian, Mobile Telecommunications and Health Research di Inggris, pada akhir tahun lalu, bekerja sama dengan Imperial College, London, mengadakan penelitian besar-besaran tentang apakah ponsel bisa memicu gejala kanker otak, alzheimer, dan parkinson. Penelitian yang didanai pemerintah Inggris dan sejumlah perusahaan seluler ini akan "membuntuti" 90 ribu orang responden selama setahun. Lalu mengevaluasi dampak kesehatannya. Hasilnya, mengindikasikan dengan kuat bahwa penggunaan ponsel berhubungan dengan perubahan khusus pada bagian otak yang berfungsi mengaktifkan dan mengoordinasikan sistem stres.

 

Hasil lainnya yang muncul adalah radiasi dapat mengganggu produksi  hormon melatonin, yang berfungsi mengatur ritme tubuh secara internal. Dari riset ini pun terungkap bahwa setengah dari total partisipan mengalami gangguan yang disebut elektrosensitif.  Mereka mengalami beberapa gejala seperti sakit kepala, gangguan fungsi kognitif akibat penggunaan ponsel.

 

Menjawab kekhawatiran dunia akan bahaya telepon genggam, WHO meluncurkan Health Evidence Network, yang merupakan layanan informasi Organisasi Kesehatan Dunia Kantor Regional Eropa, sebagai referensi bagi pengambil keputusan di bidang medis. Ternyata, menurut organisasi kesehatan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa ini, bukti bahwa radiasi telepon seluler dapat memicu tumor otak, tumor pada sel saraf pendengaran, tumor kelenjar saliva, leukemia dan limfoma, masih "lemah dan tak bisa disimpulkan". Alasannya, orang hanya memakai telepon dalam waktu terbatas, bukan sepanjang hari secara terus-menerus. Meski begitu, lembar fakta WHO menyebutkan, tidak ada bukti bukan berarti tidak ada efek.

 

Jadi Healthy People, meskipun telepon seluler tidak terbukti dapat mengakibatkan kanker, namun batasi penggunaan telepon seluler kamu supaya tidak menggunakannya secara terus menerus terutama untuk kegiatan yang tidak perlu. Karena penggunaan telepon genggan yang tidak mengenal waktu dapat membuat waktu tidur kamu terganggu, stress, kelelahan, sakit kepala, dan berbagai gejala lainnya.

 

Sumber: CNN.com

 

Kembali ke Atas