'Tipuan' Restoran Yang Membuat Kamu Gemuk

nutrisi diet
Oleh Tim HaiDokter - Selasa, 2 Mei 2017

Hati-hati, Healthy People, hindari ‘tipuan-tipuan’ yang gak kentara berikut ini...

Terus mempertahankan diet saat berada di restoran, memang sulit banget. Tekad yang kuat kadang gak cukup berhasil meredam godaan, terutama ketika restoran sengaja ‘menjatuhkan kamu ke dalam dosa’.

Banyak restoran memakai tipuan yang gak kentara supaya kamu makan lebih banyak –dan tentunya menghabiskan uang lebih banyak. Seperti dilansir active.com, hindari tipuan-tipuan ini ketika kamu keluar makan malam nanti.

 

Gambar yang Menarik. Kamu menginginkan hidangan laut. Namun, setelah membaca menu, tiba-tiba  kamu berubah selera ketika melihat bagian burger di kertas menu.

Ini alasannya: Gambar makanan yang ditambahkan dengan elemen desain, bisa membuat kamu lebih tertarik untuk mencobanya, menurut sebuah kajian terbaru dari Cornell University. Hati-hati dengan bentuk huruf, warna, kotak dan ikon menarik yang menuntun mata kamu ke makanan-makanan tertentu.

 

Menu Andalan Restoran. Pelabelan seperti “Menu Andalan” atau “Rekomendasi Chef” bisa membuat Kamu menganggap bahwa makanan tersebut layak dicoba, membuat kamu cenderung untuk memesannya dan gak peduli seberapa gak sehatnya makanan tersebut.

 

Deskripsi Makanan yang Muluk-Muluk. ‘Rasanya meledak-ledak di lidah’ dan ‘Pedas dan bikin ngiler’. “Restoran mendeskripsikan makanan mereka agar Kamu tertarik untuk memesannya,” ujar Brian Wansink, Ph.D., seorang profesor dalam bidang pemasaran di Cornell University sekaligus penulis kajian baru. Apakah kamu menyadarinya atau gak, kamu kemungkinan akan tergoda. 27% Orang lebih mungkin memesan sebuah menu, jika makanan itu dideskripsikan dengan kata-kata yang terdengar lezat.

 

Susunan Menu. Restoran meletakkan makanan pembuka dan hidangan utama lebih dekat di bagian atas menu. Kamu kemungkinan akan cenderung memesan menu dari atas karena itu yang Kamu lihat pertama. Bahkan jika Kamu tidak memilih hal yang pertama Kamu lihat, desain tersebut dapat memengaruhi pesanan kamu. Ketika orang melihat makanan pembuka yang bergizi, seperti buah, pertama kali, mereka lebih cenderung akan memilih hidangan utama yang lebih sehat, ungkap sebuah studi dari Cornell University.

 

Label ‘Sehat’. Ketika makanan dilabeli “rendah kalori” atau “bebas lemak” di menu, itu bisa membuat kamu mengurungkan diri untuk mencobanya, kata penelitian yang sama. Otak kita beranggapan bahwa makanan seperti itu akan terasa hambar. Jangan perhatikan labelnya tapi komponen makanan tersebut. Kalau bahan-bahannya terdengar lezat, maka mungkin makanannya juga lezat.

 

Roti Gratis. Ketika pramusaji membawa sekeranjang roti ke meja kamu, itu merupakan tipuan ganda. Kamu lebih mungkin untuk melahapnya dibandingkan menolaknya, dan kamu kemungkinan akan makan lebih banyak hidangan utama. Orang-orang yang mengonsumsi roti di keranjang tersebut, makan kalori 16 persen lebih banyak di hidangan utama mereka dibandingkan orang yang mengonsumsi hidangan pembuka kaya protein, menurut sebuah studi yang dipublikasikan di Phsiology & Behavior. Minta pramusaji untuk tidak menyajikan roti. Jika Kamu ingin memakan sesuatu sebelum hidangan utama datang, makanlah yang kaya protein, atau pesan hidangan pembuka yang lebih sehat.

 

Iklan yang Tidak Dapat Dihindari. Sangat mudah untuk menghindari iklan jika kamu berlangganan TV kabel tanpa iklan, tapi bagaimana Kamu melewati papan reklame saat dalam perjalanan ke kantor tanpa tergoda pada makanan yang ditawarkan? Sebuah studi UCLA pada 2013 menemukan bahwa wilayah dengan lebih banyak papan reklame yang menayangkan iklan makanan cepat saji dan minuman ringan cenderung memiliki lebih banyak penduduk yang obesitas. Sangat sulit menghindari papan iklan karena kita selalu menemukannya. Selain televisi, kebanyakan perusahaan makanan cepat saji menghabiskan dana iklan untuk papan reklame, iklan di bus, dan ruang publik lainnya dibandingkan perusahaan media, menurut Yale Rudd Center for Food Policy & Obesity.

 

Aroma Palsu. Restoran tahu bahwa beberapa aroma dapat meningkatkan selera makan dan mereka memanfaatkan ini, ujar Wansink. Bahkan ada perusahaan sungguhan yang didedikasikan untuk membantu restoran dalam masalah aroma. ScentAir, salah satu perusahaan tersebut, berhasil meniru aroma waffle, popcorn, roti kayu manis, dan bahkan hamburger panggang. Restoran bahkan akan menggunakan aroma buatan untuk mengganti aroma asli dari suatu makanan atau memperkuat aroma tersebut. ScentAir menyediakan aroma pai apel untuk McDonald’s sehingga Kamu tidak lupa untuk memesan makanan penutup.

 

Makanan Beragam Warna. Kita sering tertipu makanan karena tampilannya. Dalam sebuah studi di Journal of Consumer Research, mahasiswa diberikan semangkuk M&M’s berisi tujuh warna dan semangkuk lain yang berisi 10 warna. Para mahasiswa yang menerima 10 warna makan 77 persen lebih banyak dibanding mereka yang makan M&M’s tujuh warna. Koki restoran tahu rahasia ini, oleh karena itu mereka akan mendandani makanan dengan warna sebanyak mungkin.

 

Angka Rendah Kalori. Sekitar seperlima makanan di menu restoran besar yang diuji oleh peneliti,  memiliki 100 kalori lebih banyak dibandingkan yang mereka cantumkan, menurut sebuah studi di Journal of the American Medical Association. Hal ini kemungkinan disebabkan karena kesalahan manusia, ujar peneliti. Jika koki terlalu banyak menggunakan minyak atau dressing salad, kandungan kalorinya akan jauh berbeda.

 

Memesan Minuman Pembuka. Minuman beralkohol dapat membuat tagihan kamu lebih mahal, jadi pramusaji akan berusaha menjual koktail sejak awal. Namun, tubuh Kamu menganggap alkohol sebagai racun, jadi tubuh akan membakar kalori itu terlebih dahulu. Hasilnya: kalori di makanan yang Kamu santap kemungkinan besar akan disimpan sebagai lemak. Minuman alkohol juga membuat Kamu makan lebih cepat. Para peneliti di Belkamu memberi orang-orang minuman beralkohol, makanan, air putih, atau tidak memberi sama sekali sebelum mereka makan. Mereka yang minum alkohol makan rata-rata 192 kalori lebih banyak.

 

Dekorasi interior. Wendy’s, McDonald’s, Pizza Hut, Carl’s Jr., Burger King semuanya memiliki tema warna yang sama. Kenapa? Karena kuning dan merah membuat orang ingin makan lebih banyak. Merah membuat Kamu makan lebih cepat dan lebih memaksa, menurut sebuah studi di University of Rochester. Dan beberapa studi menemukan bahwa warna kuning merangsang nafsu makan karena membuat otak Kamu mengeluarkan serotonin, hormon kebahagiaan.

 

Musik dan Pencahayaan. Apakah restoran yang Kamu kunjungi terang dan memainkan alunan musik? Hati-hati. Orang yang makan di restoran dengan lampu redup dan musik lembut mengonsumsi 18 persen kalori lebih sedikit dibandingkan mereka yang makan di restoran dengan pencahayaan yang terang, menurut sebuah studi di Psychological Reports.

 

Bahan-Bahan Tambahan. Ada bahan-bahan yang pasti gak kamu duga ada di dalam makanan kamu. Contohnya, McNuggets ayam mengandung ekstrak ragi autolyzed, senyawa yang sama dengan MSG yang tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan cita rasa makanan secara buatan. Frosty dari Wendy’s mengandung guar gum, cellulose gum (CMC), dan karagenan –semuanya digunakan manufaktur untuk menghasilkan tekstur yang lebih tebal, menurut studi itu yang disukai oleh manusia. Dan karbohidrat halus –seperti pada roti cheese burger kamu– dapat menggugah nafsu sama seperti yang dirasakan oleh pecandu narkoba, menurut sebuah studi pada 2013 di American Journal of Clinical Nutrition.

 

Terlalu Banyak Pilihan. Banyaknya pilihan semakin menguatkan selera makan kita. Studi di Penn State University menemukan bahwa orang-orang yang ditawari yoghurt dengan tiga rasa makan 20 persen lebih banyak dibandingkan mereka yang ditawari yoghurt satu rasa. Ketika sedang makan prasmanan, batasi diri Kamu dengan mengambil hanya dua makanan sekali mengambil, ujar Wansink. Hal ini akan membuat Kamu lebih mudah mengendalikan diri.

 

Paket Makanan. Upselling –sebuah strategi pemasaran yang menawarkan tambahan kuantitas kepada konsumen– mendorong konsumen untuk mengeluarkan uang sedikit lebih banyak untuk memperbanyak porsi makanan. Tentu, tawaran itu menarik, namun Kamu juga memakan kalori lebih banyak yang gak kamu butuhkan. Dalam sebuah studi di Journal of Public Policy & Marketing, konsumen memilih porsi yang lebih besar ketika membeli paket makanan dibandingkan ketika mereka membeli makanan secara terpisah.

 

Hiburan. Jika ada televisi yang dipasang di restoran, punggungi TV tersebut atau mintalah meja yang berada di luar jangkauan pandangan TV itu. Perut kamu akan berterima kasih kepada kamu nantinya. Makan di depan televisi dapat meningkatkan asupan makanan tinggi kalori hingga sebesar 71 persen, menurut sebuah studi dari Umass Amherst.

 

 

Sumber: active.com

 

Kembali ke Atas